
Dengan mata ditutup selembar kain, Dian memusatkan konsentrasinya. Di hadapan ratusan pasang mata ia harus menemukan pemukul gong yang sengaja disembunyikan oleh salah seorang peserta seminar. Jika Dian gagal menemukan pemukul gong itu, pembukaan acara beresiko tertunda. Karena penanda pembukaan acara yang digelar di lantai satu Mall Saphir Square Jogjakarta, Senin (16/8) ini adalah pemukulan gong. Syukurlah, tak lebih dari semenit memusatkan konsentrasinya, siswi kelas 4 SD itu telah bisa menemukan pemukul gong yang sedemikian penting perannya pagi itu.
Ah, rupanya hadirin masih menyisakan penasaran. Mereka menghendaki adegan ini diulang. Kali ini lokasi pemukul gong disembunyikan lebih sulit. Namun, tetap dengan mata tertutup Dian berhasil menemukan pemukul gong itu. Pengunjung sontak bertepuk tangan. Lega bercampur takjub dengan kemampuan salah satu alumni workshop aktivasi otak tengah Anak Jenius Indonesia (AJI).
Inilah sebuah pembukaan yang dramatis dari seminar pendidikan bertajuk “Memahami Pendidikan Berbasis Otak Tengah, Sebuah Inovasi yang Menuai Manfaat” yang digelar sebagai bagian dari event Festival Anak Jenius (FAJI). Rangkaian event FAJI digelar selama 2 hari, berpuncak pada Selasa sore, tepat tanggl 17 Agustus 2010. Seminar pendidikan digelar di hari pertama, merupakan acara yang bermuatan edukasi, sebagai sarana menguatkan wacana ilmiah program yang dikembangkan oleh AJI.
“Festival ini sendiri merupakan wahana aktualisasi anak-anak alumni workshop brain development program berbasis aktivasi otak tengah yang dikembangkan oleh AJI, khususnya di wilayah DI. Yogyakarta,” tutur Nurhidayanto, SIP. Ketua Penyelenggara FAJI yang juga Direktur Eksekutif AJI Jogjakarta, kepada media massa yang mewawancarainya saat berlangsungnya seminar. Meski publikasi terbilang minim dan terkesan mendadak, gagasan event ini telah diwacanakan sejak 2 bulan sebelum hari-H. Didukung sepenuhnya oleh AJI Pusat, tuan rumah acara dipercayakan kepada AJI Jogja (Kota) dan AJI Sleman.
Hadir menjadi narasumber pada seminar ini Prof. Dr. Asdie, Sp. PD., KEMD yang mengupas dari sudut pandang kedokteran dan Dra. Aisah Indati, MS, psikolog dari Universitas Gadjah Mada yang berbicara dari tinjauan psikologi. Kehadiran kedua pembicara dengan segala kompetensinya menjadikan seminar setengah hari bernas dan sarat pencerahan.
Seratusan peserta memadati sayap barat lantai-2 mall ini. Mereka dari berbagai latar belakang, guru, kepala sekolah, pemerhati pendidikan anak, forum pendidikan anak usia dini (PAUD), dan akademisi dari disiplin ilmu psikologi. Tak ketinggalan tentunya para orang tua alumni workshop AJI di DIY, baik dari AJI Jogjakarta (Kota) maupun AJI Sleman. Maraknya diskusi tentang manfaat aktivasi otak tengah belakangan ini merupakan salah satu magnet yang menarik peserta seminar.
“Cukup informatif dan mendidik. Setelah seminar ini saya tidak cuma melihat manfaat program AJI dari perubahan terhadap anak saya, tapi juga tahu landasan ilmiahnya,” terang Pak Ardi, ayahanda salah satu alumni AJI Jogjakarta. Pak Ardi serta puluhan orang tua alumni lainnya asyik mengikuti paparan para narasumber, hingga acara ditutup pukul 13.30.
Dilaporkan oleh Hidayanto untuk Warta Anak Jenius
Tidak ada komentar:
Posting Komentar